NAMA :
SYARAH NURSYAHBANI
NPM :
17216248
KELAS : 3EA04
MATA KULIAH : ETIKA
BISNIS
KELOMPOK 7
MAMPU MENGGUNAKAN PENGETAHUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASIKAN
DAN MEMECAHKAN BERBAGAIPERSOALAN ETIKA YANG TERJADI DALAM LINGKUNGAN EKSTERNAL
BISNIS (BUDAYA ORGANISASI, HUBUNGAN ETIKA, KENDALA DALAM MEWUJUDKAN
KINERJA BISNISBudaya organisasi
Budaya organisasi memberikan ketegasan dan mencerminkan spesifikasi suatuorganisasi sehingga berbeda dengan organisasi lain.Budaya organisasi melingkupi seluruh pola perilaku anggota organisasi danmenjadi pegangan bagi setiap individu dalam berinteraksi, baik di dalam ruang lingkup internal maupun
ketika berinteraksi dengan lingkunganeksternal.Oleh karena itu menurut Schein,
secara komprehensif budayaorganisasi didefenisikan sebagai pola asumsi dasar
bersama yang dipelajarioleh kelompok dalam suatu organisasi sebagai alat untuk
memecahkan masalah terhadap penyesuaian faktor eksternal dan integrasi
faktor internal,dan telah terbukti sah, dan oleh karenanya diajarkan kepada
para anggotaorganisasi yang baru sebagai cara yang benar untuk mempersepsikan, memikirkan
dan merasakan dalam kaitannya dengan masalah-masalah yangdihadapi. Hal ini
cukup bernilai dan, oleh karenanya pantas diajarkan kepada para anggota
baru sebagai cara yang benar untuk berpersepsi,berpikir, dan berperasaan dalam
hubungannya dengan problem-problemtersebut dalam Hessel Nogi 2005:15)
Definisi tersebut terlalu kompleks sehingga
menurut Robbins, budaya Organisasididefenisikan sebagai sebuah persepsi
umum yangdipegang teguh oleh para anggota organisasi dan menjadi sebuah sistemyang
memiliki kebersamaan pengertian (dalam 2005:531) Robbins (2002:279) juga
menjelaskan bahwa budaya organisasimenyangkut bagaimana para anggota melihat
organisasi tersebut, bukanmenyangkut apakah para anggota organisasi menyukainya
atau tidak, karenapara anggota menyerap budaya organisasi berdasarkan dari apa
yang merekalihat atau dengar di dalam organisasi. Dan anggota organisasi
cenderung mempersepsikan sama tentangbudaya dalam organisasi tersebut meskipun
mereka berasal dari latar belakang yang berbeda ataupun bekerja pada
tingkat-tingkat keahlian yang berlainan dalam organisasi tersebut. Sehingga
budaya organisasi dapat disimpulkan sebagai nilai-nilai yang menjadi
pegangan sumber dayamanusia dalam menjalankan kewajibannya dan juga perilakunya
di dalam suatu organisasi.
Oleh karena itu budaya organisasi birokrasi
akan menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para
anggota organisasi;menentukan batas-batas normatif perilaku anggota
organisasai; menentukan sifat dan bentuk-bentuk pengendalian dan pengawasan
organisasi; menentukan gaya manajerial yang dapat diterima oleh para
anggota organisasi; menentukan cara-cara kerja yang tepat, dan
sebagainya. Secaraspesifik peran penting yang dimainkan oleh budaya organisasi
(birokrasi)adalah membantu menciptakan rasa memiliki terhadap organisasi;menciptakan
jati diri para anggota organisasi; menciptakan keterikatanemosional antara
organisasi dan pekerja yang terlibat didalamnya;membantu menciptakan stabilitas
organisasi sebagai sistem sosial; danmenemukan pola pedoman perilaku sebagai
hasil dari norma-norma yang terbentuk dalam keseharian.
Hubungan Etika dengan
Kebudayaan
Meta-ethical cultural relativism merupakan cara
pandang secara filosofis yang yang menyatkan bahwa tidak ada kebenaran
moral yangabsolut, kebenaran harus selalu disesuaikan dengan budaya dimana kitamenjalankan
kehidupan soSial kita karena setiap komunitas sosial mempunyai cara
pandang yang berbeda-beda terhadap kebenaran etika. Etika erat kaitannya
dengan moral. Etika atau moral dapat digunakan oeh manusia sebagai wadah
untuk mengevaluasi sifat dan perangainya.Etika selalu berhubungan dengan budaya
karena merupakan tafsiran atau penilaian
terhadap kebudayaan. Etika mempunyai nilai kebenaran yangharus selalu
disesuaikan dengan kebudayaan karena sifatnya tidak absolut danl
mempunyai standar moral yang berbeda-beda tergantung budaya yangberlaku dimana
kita tinggal dan kehidupan social apa yang kita jalani. Baik atau
buruknya suatu perbuatan itu tergantung budaya yang berlaku. Prinsip
moral sebaiknya disesuaikan dengan norma-norma berlaku, sehingga suatu hal
dikatakan baik apabila sesuai dengan budaya yang berlaku di lingkungan
sosial tersebut. Sebagai contoh orang Eskimo beranaggapan bahwa tindakan
infantisid (membunuh anak) adalah tindakan yang biasa, sedangkan menurut
budaya Amerika dan negara lainnyatindakan ini merupakan suatu tindakan amoral.Suatu
premis yang disebut dengan “Dependency Thesis” mengatakan “All moral
principles derive their validity from cultural acceptance”. Penyesuaian
terhadap kebudayaan ini sebenarnya tidak sepenuhnya harusdipertahankan dan
dibutuhkan suatu pengembangan premis yang lebih kokoh . ajaran dan
pandangan moral. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu kata “ethos”
yang berarti suatu kehendak atau kebiasaan baik yang tetap.Manusia yang pertama
kali menggunakan kata-kata itu adalah seorangfilosof Yunani yang bernama
Aristoteles ( 384 – 322 SM ). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,
etika / moral adalah ajaran tentang baik dan buruk mengenai perbuatan,
sikap, kewajiban dan sebagainya. Menurut K. Bertenes,etika adalah nilai-nilai
atau norma-norma yang menjadi pegangan bagiseseorang dalam mengatur tingkah
lakunya. Etika berkaitan erat dengan berbagai masalah nilai karena etika
pada pokoknya membicarakan tentang masalah-masalah predikat nilai
”susila” dan ”tidak susila”, ”baik”dan ”buruk”. Kualitas-kualitas ini dinamakan
kebajikan yang dilawankandengan kejahatan yang berarti sifat-sifat yang
menunjukkan bahwa orang yang memilikinya dikatakan tidak susila.
Sesungguhnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip
dasar pembenaran dalam hubungannya

0 komentar:
Posting Komentar