Nama: Syarah Nursyahbani
Kelas : 3EA04
Npm : 17216248
Mata Kuliah : Etika Bisnis
Analisis Persepsi
Konsumen Terhadap Diferensiasi Produk Extrajoss Active Rasa Krim Soda
Latar Belakang Masalah
Sejalan
dengan kemajuan di bidang ekonomi, maka perkembangan dunia usaha mengalami
perkembangan yang cukup pesat. Dunia ekonomi khususnya bisnis usaha akan
terdapat persaingan yang ketat antara perusahaan sejenis, dimana perusahaan
akan berlomba-lomba untuk memenuhi permintaan dari pasar atau konsumen.
Pemasaran memegang peranan penting dalam dunia usaha karena pemasaran
berhubungan dengan kegiatan untuk memperkirakan atau mengantisipasi kebutuhan
dan keinginan konsumen dan juga berkaitan dengan mengalirnya produk berupa
barang dan jasa dari produsen kepada konsumen dalam rangka mencapai tujuan
perusahaan, yaitu memperoleh keuntungan.
Perkembangan
pasar yang besar 2 mengundang datangnya pelaku baru untuk ikut menikmati
keuntungan yang sama. Produk-produk yang bersaing tersebut mempunyai cirri yang
sama, yaitu berbentuk cair, dikemas dalam botol, dan dapat dikategorikan
sebagai minuman kesehatan yang relatif mahal dengan target konsumen menengah
keatas yang memerlukan kesegaran dan vitalitas. Persaingan yang telah marak
serta permainan yang berlomba dikategori ini cukup banyak, seperti Livopitan,
Kratingdaeng, M-150, Nagatan dan lainnya. PT. Bintang Toedjoe menganggap
peluang masih ada dan justru sangat besar yaitu dengan membidik pasar sasaran yang
ingin menggunakan produk ini dengan harga terjangkau tetapi dengan khasiat atau
kualitas yang sama. Merekapun mengeluarkan produk dengan merek Extra Joss, yang
memanfaatkan strategi
diferensiasi yang menawarkan produk lebih murah, rasa yang
bervariasi dan dengan meyakinkan konsumen bahwa bentuk bubuk itu lebih ampuh,
karena itulah bentuk asli atau awalnya yang disebut “biangnya”.
Munculnya pelaku baru di industri
minuman suplemen ini memunculkan ancaman tersendiri bagi Extra Joss. Saat ini
telah terdapat banyak merek yang memperebutkan pasar yang sama. Selain Extra
Joss, ada Hemaviton dengan berbagai variannya (PT. Tempo Scan), Kuku Bima
Ener-G (PT. Sido Muncul), Fit-Up (Konimex), dan lain-lain. Pelaku minuman
suplemen ini, diperkirakan memperebutkan pasar senilai Rp.2 triliun/tahun dan
Extra Joss menguasai sekitar 50% sedangkan yang kedua adalah Hemaviton Jreng
dengan penguasaan sekitar 20%, Kratingdaeng dan Kuku Bima menempati posisi yang
ketiga dengan penguasaan sekitar 10% lebih, dan sisanya ditempati oleh pelaku
lain yang kecil-kecil.
Sebagai
merek pionir dan market leader dalam kategori minuman energi non cair tentunya
akan menguntungkan manajemen Extra Joss, karena konsumen sudah lebih dulu
mengingat merek tersebut untuk jangka waktu yang cukup lama sebelum munculnya
pendatang baru. Bersama 4 merek-merek lain, Extra Joss bersaing dipasar dengan
kekuatan merek yang berbeda-beda, maka dari itu Extra Joss harus terus berusaha
mempertahankan posisinya sebagai market leader. Hal ini tentunya tidak mudah
karena para pesaing terus berusaha untuk menggerogoti pangsa pasar dari Extra
Joss dan berusaha untuk menggeser posisinya sebagai market leader. Persaingan
di kategori minuman energi, khususnya serbuk, memang akan banyak tergantung
pada aspek awareness dan distribusi. Faktor kualitas yang seharusnya bisa
menjadi diferensiasi utama antar pelaku semakin sulit dibedakan.
KASUS I :
Kasus Iklan Minuman Berenergi (Kuku Bima Energi vs Exra Joss) Iklan
produk minuman berenergi yaitu Kuku Bima Energi dan Extra Joss merupakan contoh
iklan yang tidak beretika dalam dunia bisnis. Karena dalam dua iklan tersebut, mereka
saling menjatuhkan satu sama lain dengan sindiran – sindiran yang ada di dalam
iklan. Kuku Bima Energi memiliki slogan “Kuku Bima Energi Roso” yang artinya
memiliki banyak rasa dalam setiap pilihan minuman tersebut yakni rasa original,
anggur, jambu, jeruk, kopi, dan teh. Sedangkan dalam iklan Extra Joss hanya menampilkan
satu rasa yaitu rasa original dan Extra Joss membuat slogan “Laki Kok Minum
Yang Rasa-Rasa” dengan maksud menyindir konsumen Kuku Bima Energi yang
meminum minuman berenergi dengan aneka pilihan rasa. Dari slogan – slogan yang
ditunjukan dari dua minuman berenergi tersebut, dapat dikatakan bahwa secara tidak
langsung Extra Joss menyindir Kuku Bima Energi.
Kesimpulan :
Jika kita lihat dari sisi etika bisnis, Extra Joss merupakan
pihak yang menyinggung etika. Salah satu prinsip etika bisnis yaitu
utilitarianisme mengatakan bahwa suatu bisnis dikatakan etis apabila
bisnis yang dilakukan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat (Velasquez,
2014). Extra Joss dapat merugikan masyarakat karena sindiran yang
ditujukan kepada Kuku Bima Energi membuat masyarakat tidak memiliki pilihan
lain dalam menikmati minuman berenergi. Masyarakat terlebih konsumen pria
menjadi ragu akan jati diri mereka apakah minuman berenergi lebih baik rasa
original saja atau tidak akibat adanya slogan dari Extra Joss. Padahal rasa tidak
menentukan apakah minuman tersebut menjadikan kita lebih berenergi atau tidak
melainkan konten dari minuman tersebut. Konsep utilitarianisme dalam kasus ini
menunjukan bahwa masyarakat seharusnya mempunyai pilihan dalam mengkonsumsi
minuman berenergi mana yang akan dikonsumsi.

0 komentar:
Posting Komentar